RSS

Ketenagakerjaan

28 Jul

Standar Kompetensi :

Memahami kondisi ketenagakerjaan dan dampaknya terhadap pembangunan ekonomi.

Kompetensi Dasar :

1.1 Mengklasifikasi ketenagakerjaan

1.2 Mendeskripsikan
tujuan pembangunan ekonomi

1.3 Mendeskripsikan proses pertumbuhan ekonomi

1.4 Mendeskripsikan pengangguran beserta dampaknya terhadap
pembangunan
nasional

 

Pengantar

Kita tahu bersama bahwa manusia diciptakan sebagai makhluk yang mempunyai sifat tak terbatas dalam hal mencapai kepuasan atau kesejahteraan oleh karenannya ketika manusia diciptakan dan dikodratikan untuk hidup haruslah mampu mensejahterakan dirinya dengan memenuhi segala hasrat dan kebutuhannya. Untuk kepentingan tersebut maka manusia hendaklan mempunyai pendapatan agar segala hasrat, keinginan dan kebutuhannya dapat terpenuhi dan hidupnya tersejahterakan, oleh karenannya manusia dituntut untuk bekerja sebagi penyeimbang agar manusia tersebut mampu mempunyai pendapatan yang diperuntukkan memeroleh kemakmuran dan kesejahteraan yang diinginkan.

Masalah pekerjaan ini merupakan masalah kompleks, bagi sebagian orang pekerjaan merupakan suatu keharusan dan kewajiban untuk memenuhi kebutuhan dasar hidupnya namun bagi sebagian orang lagi menganggap pekerjaan merupakan aktualisasi diri dikarenakan dengan adanya pekerjaan maka dirinya mampu menunjukkan kehebatan akan kemampuan dirinya terhadap orang lain.

Yang sangat signifikan dimasyarakat bahwasannya pekerjaan merupakan pembagian strata status sosial,Misalnya ” Seorang yang bekerja sebagai Guru, Dosen, Dokter akan dianggap mempunyai status sosial yang lebih tinggi disbanding dengan seseorang yang bekerja sebagai Tukang Parkir”. Namun bila kita pelajari lebih dalam lagi hal tersebut dapatlah tidak tepat mengapa demikian sebab belum tentu seorang Guru, Dosen, Dokter akan memiliki pendapatan yang jauh lebih baik disbanding Tukang Parkir.

Oleh karenannya masalah pekerjaan ini menjadi sangat penting apalagi bila kita membandingkan antara kesempatan kerja dengan pencari kerja secara kuantitatif dan secara kualitatif secara kuantitatif mungkin saja akan sama tetapi bila dibandingkan secara kualitatif maka akan terasa perbedaan dimana pencari kerja yang mempunyai kualital sangatlah langka dan hal ini yang memicu banyak sekali munculnya angka pengangguran, untuk mengatasi masalah tersebut haruslah dicari pemecahan masalah yang reel dan konkret tidak hanya dilakukan oleh pemerintah saja melainkan dilakukan oleh seluruh komponen Negara.

Penggolongan Tenaga Kerja

Tenaga kerja dapat digolongkan atau diklasifikasikan secara minimal yaitu : Tenaga Kerja Terdidik (Skill Labour), Tenaga Kerja Terlatih (Trainer Loabour), Tenaga Kerja tidak terlatih (Unskill Labour).

  1. Tenaga Kerja Terdidik (Skill Labour)

    Tenaga kerja terdidik merupakan tenaga kerja yang pernah/memperoleh pendidikan formal dalam bidang tertentu namun belum pernah dilatih (Tidak terlatih) dalam bidang tersebut. Tenaga kerja ini identik dinamakan sebagai tenaga kerja yang belum berpengalaman.

     

  2. Tenaga Kerja Terlatih (Trainer Labour)

    Tenaga Kerja terlatih adalah tenaga kerja yang telah bekerja dan pernah mengikuti latihan sesuai dengan bidangnya, misalnya seorang yang telah menamatkan studinya dalam bidang akuntansi, maka mereka dapat digolongkan sebagai tenaga kerja terlatih. Tenaga kerja terlatih ini disamakan dengan tenaga kerja yang sudah berpengalaman.

     

  3. Tenaga Kerja tidak Terlatih (Unskill Labour)

    Merupakan jenis tenaga kerja yang tidak mempunyai pendidikan dan keahlian dalam bidang apapun, jenis tenaga kerja ini merupakan bagian terbesar dari seluruh tenaga kerja yang ada

     

Kesempatan Kerja

 

Dengan adanya penggolongan tenaga kerja diatas maka dapat kita ketahui betapa sulitnya untuk mendapatkan pekerjaan, persaingan tersebut memicu munculnya kesempatan kerja (Dumand for Laobour).

Dalam ilmu ekonomi Kesempatan Kerja diartikan sebagai peluang atau keadaan yang menunjukkan ketersediaan lapangan pekerjaan sehingga semua orang yang bersedia dan sanggup bekerja dalam proses produksi dapat memperoleh pekerjaan sesuai dengan pendidikan, keahlian, keterampilan dan bakat masing-masing.

Sehingga kesempatan kerja (Dumand for Laobour) dapat suatu keadaan yang menggambarkan/ketersediaan pekerjaan (Lapangan Pekerjaan untuk diisi oleh para pencari kerja) atau permintaan atas tenaga kerja.

Setiap manusia memerlukan kesempatan kerja namun apakah setiap manusia itu merupakan pencari kerja? Atau ada kriteria tertentu yang dapat membagi antara pencari kerja dan bukan pencari kerja. Kesempatan kerja menjadi suatu yang sangat kompleks diakibatkan oleh jumlah penduduk yang merupakan angakatan kerja dimana jumlah penduduk banyak makan jumlah pencari kerja akan banyak dan angkatan kerjapun jumlahnya akan banyak sehingga akan meningkatakan angka kesempatan kerja.

Kesempatan kerja dapat digolongkan menjadi dua bagian :

  1. Pekerja Penuh (Full Employment) yaitu mereka yang sudah bekerja dan telah memenuhi syarat-syarat pekerja penuh, diantaranya;
  • Mereka bekerja 40 jam kerja perminggu
  • Memiliki upah minimum regional
  • Sesuai dengan latar belakang pendidikan (keahlian)
  1. Pekerja setengah menagnggur

 

Angkatan Kerja

Menurut Prof. Soemitro Djojohadikususumo, Angkatan Kerja (Labour Force) adalah sebagian dari jumlah penduduk yang mempunyai pekerjaan atau yang sedang mencari kesempatan untuk melakukan pekerjaan yang produktif.

Dikatakan diatas bahwa banyak sedikitnya jumlah angkatan kerja tergantung komposisi jumlah penduduknya. Kenaikan jumlah penduduk terutama yang termasuk golongan usia kerja akan menghasilkan angkatan kerja yang banyak pula. Angkatan kerja yang banyak tersebut diharapkan akan mampu memacu meningkatkan kegiatan ekonomi yang pada akhirnya akan meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Pada kenyataannya, jumlah penduduk yang banyak tidak selalu memberikan dampak yang positif terhadap kesejahteraan.

Coba Anda perhatikan bagan di bawah ini!


 

Dari bagan di atas terlihat bahwa angkatan kerja merupakan bagian dari penduduk yang termasuk ke dalam usia kerja. Usia Kerja adalah suatu tingkat umur seseorang yang diharapkan sudah dapat bekerja dan menghasilkan pendapatannya sendiri. Usia kerja ini berkisar antara 14 sampai 55 tahun. Selain penduduk dalam usia kerja, ada juga penduduk di luar usia kerja, yaitu di bawah usia kerja dan di atas usia kerja. Penduduk yang dimaksud yaitu anak-anak usia sekolah dasar dan yang sudah pensiun atau berusia lanjut.

Bagian lain dari penduduk dalam usia kerja adalah bukan angkatan kerja. Yang termasuk di dalamnya adalah para remaja yang sudah masuk usia kerja tetapi belum bekerja atau belum mencari perkerjaan karena masih sekolah. Ibu rumah tangga pun termasuk ke dalam kelompok bukan angkatan kerja.

Penduduk dalam usia kerja yang termasuk angkatan kerja, dikelompokkan menjadi tenaga kerja (bekerja) dan bukan tenaga kerja (mencari kerja atau menganggur). Tenaga Kerja (man power) adalah bagian dari angkatan kerja yang berfungsi dan ikut serta dalam proses produksi serta menghasilkan barang atau jasa.

 

Pengertian dan Jenis Pengangguran

Pada keadaan yang ideal, diharapkan besarnya kesempatan kerjasama dengan besarnya angkatan kerja, sehingga semua angkatan kerja akan mendapatkan pekerjaan. Pada kenyataannya keadaan tersebut sulit untuk dicapai. Umumnya kesempatan kerja lebih kecil dari pada angkatan kerja, sehingga tidak semua angkatan kerja akan mendapatkan pekerjaan, maka timbullah penggangguran.

Pengangguran sering diartikan sebagai angkatan kerja yang belum bekerja atau bekerja secara tidak optimal. Berdasarkan pengertian tersebut, maka pengangguran dapat dibedakan menjadi tiga macam.

  1. Pengangguran Terbuka (Open Unemployment)
    Pengangguran terbuka adalah tenaga kerja yang betul-betul tidak mempunyai pekerjaan. Pengangguran ini terjadi ada yang karena belum mendapat pekerjaan padahal telah berusaha secara maksimal dan ada juga yang karena malas mencari pekerjaan atau malas bekerja.

     

  2. Pengangguran Terselubung (Disguessed Unemployment)
    Pengangguran terselubung yaitu pengangguran yang terjadi karena terlalu banyaknya tenaga kerja untuk satu unit pekerjaan padahal dengan mengurangi tenaga kerja tersebut sampai jumlah tertentu tetap tidak mengurangi jumlah produksi. Pengangguran terselubung bisa juga terjadi karena seseorang yang bekerja tidak sesuai dengan bakat dan kemampuannya, akhirnya bekerja tidak optimal.

 

Contoh:
Pada sebuah kantor terdapat 10 tenaga administrasi yang menangani pekerjaan yang ada. Padahal dengan jumlah tenaga 6 orang saja semua pekerjaan dapat terselesaikan dengan baik. Akibatnya para pegawai tersebut bekerja tidak optimal dan bagi kantor tentu merupakan suatu pemborosan.

  1. Setengah Menganggur (Under Unemployment)
    Setengah menganggur ialah tenaga kerja yang tidak bekerja secara optimal karena tidak ada pekerjaan untuk sementara waktu. Ada yang mengatakan bahwa tenaga kerja setengah menganggur ini adalah tenaga kerja yang bekerja kurang dari 35 jam dalam seminggu atau kurang dari 7 jam sehari. Misalnya seorang buruh bangunan yang telah menyelesaikan pekerjaan di suatu proyek, untuk sementara menganggur sambil menunggu proyek berikutnya.

Bisakah Anda memberi contoh lain mengenai jenis pengangguran di atas? Coba sebutkan lalu cocokkan ciri-ciri pengangguran tadi dengan contoh yang Anda sebutkan.

Apabila digambarkan dengan bagan, maka jenis pengangguran ini akan nampak sebagai berikut:


Bila ditinjau dari sebab-sebabnya, pengangguran dapat digolongkan menjadi 7, yaitu:

  1. Pengangguran Friksional (Transisional).
    Pengangguran ini timbul karena perpindahan orang-orang dari satu daerah ke daerah lain, dari satu pekerjaan ke pekerjaan yang lain dan karena tahapan siklus hidup yang berbeda. Contoh:
    - Perpindahan tenaga kerja dari sektor pertanian ke sektor industri, untuk sementara menganggur.
    - Berhenti dari pekerjaan yang lama, mencari pekerjaan yang baru yang lebih baik

     

  2. Pengangguran Struktural
    Pengangguran ini terjadi karena adanya perubahan dalam struktur perekonomian yang menyebabkan kelemahan di bidang keahlian lain. Contoh: Suatu daerah yang tadinya agraris (pertanian) menjadi daerah industri, maka tenaga bidang pertanian akan menganggur.

     

  3. Pengangguran Siklikal atau Siklus atau Konjungtural
    Pengangguran ini terjadi karena adanya gelombang konjungtur, yaitu adanya resesi atau kemunduran dalam kegiatan ekonomi. Contoh: Di suatu perusahaan ketika sedang maju butuh tenaga kerja baru untuk perluasan usaha. Sebaliknya ketika usahanya merugi terus maka akan terjadi PHK (Pemutusan Hubungan Kerja) atau pemecatan.

     

  4. Pengangguran Musiman (Seasonal)
    Pengangguran musiman terjadi karena adanya perubahan musim. Contoh: pada musim panen, para petani bekerja dengan giat, sementara sebelumnya banyak menganggur.

     

  5. Pengangguran Teknologi
    Pengangguran ini terjadi karena adanya penggunaan alat–alat teknologi yang semakin modern. Contoh, sebelum ada penggilingan padi, orang yang berprofesi sebagai penumbuk padi bekerja, setelah ada mesin penggilingan padi maka mereka tidak bekerja lagi.

     

  6. Pengangguran Politis
    Pengangguran ini terjadi karena adanya peraturan pemerintah yang secara langsung atau tidak, mengakibatkan pengangguran. Misalnya penutupan Bank-bank bermasalah sehingga menimbulkan PHK.

     

  7. Pengangguran Deflatoir
    Pengangguran deflatoir ini disebabkan tidak cukup tersedianya lapangan pekerjaan dalam perekonomian secara keseluruhan, atau karena jumlah tenaga kerja melebihi kesempatan kerja, maka timbullah pengangguran.
 
Leave a comment

Posted by on July 28, 2011 in Uncategorized

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: